PARTISIPASI DESA WISATA CANGGU DALAM LOMBA DESA WISATA NASIONAL 2014

Desa wisata merupakan salah satu trend yang dalam dasawarsa ini banyak dikembangkan oleh hampir seluruh daerah. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah pun turut memberikan dukungan bagi administrasi wilayah terkecil ini untuk mengidentifikasi dan mengembangkan potensi desanya bagi wisata. Bantuan berupa PNPM-Pariwisata, pembinaan dan sosialisasi, studi banding, serta pendampingan diberikan untuk menstimulasi, mengedukasi, dan mendorong masyarakat desa dalam partisipasinya mengembangkan desa wisata hingga akhirnya mampu menjadi destinasi wisata yang dapat ditawarkan kepada pelaku perjalanan wisata.
Di Kabupaten Kediri, Desa Canggu di Kecamatan Badas merupakan salah satu dari empat desa yang dikembangkan menjadi desa wisata selain Desa Joho di Kecamatan Semen, Desa Jugo di Kecamatan Mojo, dan Desa Sugihwaras di Kecamatan Ngancar. Desa yang berlimpah air ini menawarkan beragam potensi desanya mulai dari kunjungan ke Candi Surowono, kesenian hadrah dan bantengan, pembudidayaan ikan, penyusuran terowongan bawah tanah dan sungai, bercocok tanam, pengolahan makanan, bahkan untuk wahana outbound pun sudah tersedia peralatan cukup lengkap. Kesemuanya itu juga didukung oleh kepengurusan Forum Komunikasi Desa Wisata yang solid dan masyarakat yang antusias mendukung. Selain itu, desa-desa sekitar juga memiliki potensi yang dapat mendukung seperti Desa Singgahan dan Tulungrejo dengan Kampung Inggris, Desa Sekoto dengan batik, dan Desa Jombangan dengan produksi nira kelapa. Walau masih dalam proses pengembangan menjadi desa wisata, kesemua hal inilah yang mendorong Kabupaten Kediri optimis mengikutsertakan Desa Wisata Canggu dalam Lomba Desa Wisata Nasional 2014.

IMG_20140903_130607
Hari Rabu, 03 September 2014 lalu, tim juri Lomba Desa Wisata Nasional 2014 yang terdiri dari Bu Hilda dan Bu Titien dari Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, Bapak Yusup Sudadi dari Biro Perjalanan Senior di Indonesia berkesempatan mengunjungi Desa Canggu untuk melakukan penjurian. Kedatangan mereka sekitar pukul 12.30 WIB disambut hangat masyarakat desa. Selanjutnya mulai dilaksanakan penjurian dengan mendengarkan presentasi dari Kepengurusan Desa Wisata Canggu dilanjutkan dengan terjun ke lapangan untuk melihat secara langsung. Dengan seksama para juri mengunjungi beberapa lokasi sambil mendengarkan penjelasan dari pemandu survey hingga menjelang sore.

IMG_20140903_154240
Pada akhir penjurian, sebelum tim juri bertolak dari Kediri, diadakan makan bersama di bawah rindangnya area Punden Desa Canggu. Gemericik air sungai dan sajian masakan lezat cita rasa pedesaan menjadi pengiring ramah-tamah. Berulang kali Ibu-ibu juri memberikan pujian atas masakan yang lezat dari racikan Ibu-ibu setempat. Di sela-sela ramah-tamah Ibu Hilda berpesan agar pengembangan Desa Wisata bisa melibatkan dukungan dari lebih banyak lagi anggota masyarakat melalui potensi-potensi lain yang bisa dikembangkan seperti kerajinan, pengolahan hasil pertanian menjadi produk oleh-oleh, dan kegiatan ‘ndeso’ lain yang bisa dijadikan atraksi wisata. Hasil akhir Lomba Desa Wisata Nasional 2014 bukanlah ukuran Desa wisata merupakan bentuk peran serta seluruh masyarakat desa untuk memunculkan potensi yang ada di desanya untuk dapat mendatangkan wisatawan berkunjung dan menikmati pengalaman di pedesaan. (Dee)

EAST JAVA FAM TRIP WITH TIGER AIRWAYS – FAM TRIP TO KEDIRI 6-7 SEPTEMBER 2014

 

visit kediri

Familiarization Trip atau lebih dikenal sebagai Fam Trip merupakan sebuah program yang sejauh ini dirasa paling efektif dalam mempromosikan suatu destinasi atau layanan jasa. Fam trip dalam kepariwisataan dilakukan dalam bentuk mengundang biro-biro perjalanan/travel agent dan/atau jurnalis pariwisata (travel writer) mengunjungi destinasi-destinasi pariwisata suatu daerah. Di akhir kegiatan Fam Trip biasa dilaksanakan pertemuan dengan pengelola wisata untuk meminta kritik membangun dan saran positif dengan harapan ke depan dapat menjadi bagian bagi paket wisata dan menjadi berita jurnalisme mereka.

Bagi Kabupaten Kediri, Fam Trip ini merupakan program yang selalu diprogramkan setiap tahun, utamanya saat menggelar event wisata seperti Hari Jadi Kabupaten Kediri, Pekan Budaya dan Pariwisata, Festival Kelud, dll mengingat efektivitas program ini bagi promosi potensi wisata Kabupaten Kediri. Sejumlah biro perjalanan wisata dan travel writer dari Bali, Yogyakarta, Solo, Jakarta, Semarang, Surabaya, Malang, dll. telah diundang untuk mengikuti program fam trip wisata Kabupaten Kediri. Ketertarikan biro perjalanan wisata tadi selanjutnya menjadi bagian dari program paket wisata yang ditawarkan pada konsumen dan menjadi liputan yang dipublikasikan di media massa. Hal yang membanggakan adalah sejumlah destinasi wisata Kabupaten Kediri sudah banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sejalan dengan program Fam Trip yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, pada akhir pekan ini (Sabtu-Minggu, 6-7 September 2014) Kabupaten Kediri menjadi bagian dari program tersebut disamping Kota Surabaya, Kabupaten Pasuruan, Kota Malang, dan Kota Batu. Sebanyak 20 pelaku industri pariwisata dari Singapura akan mengunjungi Kabupaten Kediri sebagai bagian dari program East Java Familiarization Trip 5-8 September With Tiger Airways. Kunjungan ini menjadi salah satu upaya mempromosikan potensi kebudayaan dan pariwisata Jawa Timur, khususnya bagi masyarakat Singapura. Peserta Fam Trip terdiri dari 10 orang dari tour operator, 5 orang travel writer, 1 orang dari VITO (Visit Indonesia Tourism Office), dan 1 orang dari Tiger Airways. Mereka akan diajak mengunjungi sejumlah destinasi unggulan Kabupaten Kediri antara lain Gunung Kelud, Pohsarang, Kampung Inggris-Desa Wisata Canggu, serta menikmati sajian wayang krucil di acara makan malam penyambutan. Harapan terbesar, program ini menjadi ketertarikan bagi mereka untuk menjadikan destinasi-destinasi wisata Kabupaten Kediri menjadi bahan tulisan wisata yang memikat dan sebagai destinasi dalam paket wisata Jawa Timur yang ditawarkan bagi masyarakat Singapura. (Dee – Disbudpar)

GEBYAR ASYIIIK UNGU DAN ARMADA MENGGUNCANG SIMPANG LIMA GUMUL KEDIRI

IMG_20140830_223704

Masih terngiang alunan indah lagu-lagu dari Grup Band Ungu dan Armada dan riuh histeris ribuan penonton turut bernyanyi dan memberikan aplaus hari Sabtu Malam lalu (30/08/2014). Konser yang disponsori oleh salah satu produk rokok ini memilih area Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri sebagai salah satu venue bagi roadshow selain beberapa kota di Jawa dan Sumatera seperti Malang, Lampung, Mojokerto, Sumenep, Tasikmalaya dan Jakarta. Konser bertajuk Gebyar Asyiiik ini menghadirkan dua grup musik nasional, Ungu dan Armada beserta presenter Rina Nose, dkk.

Event Gebyar Asyiiik ini dikemasi dengan konsep memberikan hiburan interaktif bagi para pengunjung. Venue sekitar panggung juga menyediakan beragam booth dan area bagi kegiatan interaktif berkelompok, kuliner asyik, hingga kolaborasi musik asyik dimulai dari pukul 14.00 WIB dengan menampilkan band-band dan kesenian lokal untuk menambah jam terbang dalam mengapresiasikan jiwa seni. Hingga pada puncak Konser Gebyar Asyiiik kedua grup band nasional ternama dimulai pukul 19.00 hingga 22.15 WIB dimana mengawali kegiatan Gebyar Asyiiik dilaksanakan konvoi bersama seluruh komunitas peserta Gebyar Asyiiik menuju Lapangan Simpang Lima Gumul Kediri. Tak kurang 3.000 penonton memadati venue konser, dan ribuan lainnya di luar area tertutup. Penonton yang ingin menonton di venue dalam tak dipungut biaya alias gratis, namun mengingat event yang disponsori salah satu produk rokok ini ditujukan bagi segmen dewasa, penonton hanya diminta menunjukkan Kartu Tanda Pengenal.

IMG_20140830_222220

Grup Band Armada yang mendapat kesempatan pertama menyapa penonton Kediri dan sekitarnya. Tak kurang delapan lagu syahdu mendayu-dayu yang menjadi ciri khas grup musik ini terkadang membuat penonton turut bernyanyi. Kesempatan selanjutnya bahkan lebih dahsyat. Ungu yang merupakan grup band papan atas Indonesia menggebrak dengan lagu-lagu hitsnya seperti Melayang,Tercipta Untukku, Bayang Semu, dll. Serasa seisi Kawasan Simpang Lima Gumul terhipnotis dan larut dalam keriuhan konser hingga pada akhir acara kedua band bersama seluruh presenter pengisi konser berada di panggung menutup acara.

Hal yang sangat membanggakan dari event ini adalah tetap kondusif dan terkendali, tanpa ada tawuran atau kericuhan yang menandakan kedewasaan penonton Kediri bagi pelaksanaan event disamping juga tertatanya manajemen event yang ditata oleh event organizer beserta pihak keamanan. Dita, salah seorang dari Mojoroto Kediri mengatakan bahwa dia sangat menikmati konser tersebut tanpa ada tawuran sebagaimana yang biasa dia takutkan. Kedewasaan masyarakat Kediri dalam menjaga kondusivitas keamanan juga menjadi tanda Kabupaten Kediri siap menjadi tuan rumah bagi segala event berskala nasional. (Dee)

Jaranan – Perpaduan Seni, Mistis, historis, dan musik diatonis

jaranan

Di Kabupaten Kediri terdapat beberapa kesenian Jaranan yang dapat dinikmati diantaranya Jaranan Senterewe, Jaranan Pegon, Jaranan Dor, dan Jaranan Jowo. Jaranan Jowo merupakan salah satu kesenian Jaranan yang mengandung unsur magis dalam tariannya. Dimana pada puncaknya penari akan mengalami “Trance” (kesurupan) dan melakukan aksi berbahaya yang terkadang di luar akal manusia.

Sedangkan Jaranan Dor, Jaranan Pegon, dan Jaranan Senterewe lebih mengedepankan kreatifitas gerak dengan iringan musik yang dinamis. Jaranan Senterewe merupakan jaranan yang digemari, karena dalam penampilannya selalu disertai hiburan lagu-lagu yang bernada diatonis.

Awal mula sejarah Jaranan Kediri ketika Raja Airlangga memiliki seorang putri bernama Dewi Songgo Langit yang mengadakan sayembara untuk menikahkan putrinya. Karena kecantikannya ada beberapa orang yang ingin melamar Dewi Songgo Langit antara lain Klono Sewandono dari Wengker dan Singo Barong dari Blitar. Dari sayembara itulah muncul kesenian Jaranan asli Kediri dengan menampilkan gerak tari yang mempunyai nilai historis sejak Kerajaan Kediri.

 

In Kediri, there are several art that can be enjoyed including Jaranan: Jaranan Senterewe, Jaranan Pegon, Jaranan Dor, and Jaranan Jowo. Jaranan Jowo is one of Javanese art that contains elements of magic in the dance. Where there is a moment the dancers experience trance and perform stunts that are sometimes beyond human explanation.

While Jaranan Dor, Jaranan Pegon, and Jaranan Senterewe motion put forward creativity with a dynamic musical accompaniment. Jaranan Senterewe is favored because the appearance is always accompanied by entertaining diatonic pitched songs.

The history of Jaranan Kediri was when King Airlangga held a contest all over the country. His daughter, Princess Dewi Songgo Langit was the prize as wife for whoever the winner. Because of her beauty there were some people who want to apply for her. Among them were Klono Sewandono of Wengker and Singo Barong of Blitar. From the competition between both of them, emerging Jaranan Kediri performing the sacred beauty of movement based on history since the Kingdom of Kediri. (Dok. Disbudpar)

Pamuksan Sri Aji Joyoboyo – Perjalanan Menembus Ruang dan Waktu

Ritual 1 Suro (a) di Sri Aji Joyoboyo

Pamuksan Sri Aji Jayabhaya terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri dengan jarak ± 20 Km arah timur laut Kota Kediri. Kata “Pamuksan” sendiri berasal dari kata dasar “Mukhsa” dengan awalan pa dan berakhiran an yang bermakna tempat/lokasi, kata ini memiliki arti tempat hilang/naiknya jiwa dan raga manusia secara bersama-sama menghadap “Sang Pencipta” di alam kelanggengan. Pamuksan Sri Aji Jayabhaya memiliki luas tanah ± 1650 m2, secara kajian arkeologis pada area pamuksan tidak ditemukan adanya data-data yang mendukung adanya suatu bangunan/struktur bangunan candi ataupun bangunan kuno yang bernilai arkeologis, namun dari kajian Toponim asal kata “Menang” pada Desa Menang saat ini akan merujuk pada kata “Mamenang” yaitu nama sebuah tempat dimana Sri Aji Jayabhaya pernah bertahta berabad-abad silam. Dan tidak mengherankan pula apabila disekitar Desa Menang ini banyak tersebar situs-situs arkeologis yang antara lain : Situs Arca Thotok Kerot (Dwarapala) di Bulupasar, ± 1 Km sebelah selatan Desa Menang dan Situs Calon Arang (Struktur bangunan) di Sukorejo, ± 1 Km sebelah timur Desa Menang.

Sri Aji Jayabhaya atau Sri Mapanji Jayabhaya adalah sosok raja yang termashur dalam dinamika kesejarahan Indonesia pada masa Jawa Kuna. Diantara raja-raja masa Kerajaan Kadiri, Sri Mapanji Jayabhaya merupakan raja yang terbesar yang kemashurannya masih terpelihara sampai dengan saat ini, terutama apabila dikaitkan dengan ramalan-ramalannya tentang Tanah Jawa yang teruntai dalam Serat Jangka Jayabaya.

Sri Mapanji Jayabhaya memiliki gelar dengan Abhiçekanama, “Sri Maharaja Sri Warmesswara Madhusudana wataranindhita Suhrtasingha Parakrama Digjayo-Ttunggadewanamma Jayabhayalancana”. Gelar Abhiçekanama ini memiliki arti : “ Sang Raja Agung, Sang Mulia Pemilik keadilan, Titisan Wisnu yang tanpa cela, Maha kuat dan berani laksana singa dan pemenang atas dunia, dialah Jayabhaya “.

Sri Mapanji Jayabhaya bertahta di Kadiri-Mamenang pada tahun 1135 – 1157 Masehi, Raja ini tidak hanya terkenal karena hasil kasusasteraannya yang agung, (oleh sejarawan, masa Jayabhaya disebut sebagai jaman emas karya sastra Jawa Kuna) namun Sri Mapanji Jayabhaya juga terkenal karena “kecemerlangannya” dalam memimpin Kerajaan Panjalu. Kecemerlangan Jayabhaya terbukti pada politik penyatuan kembali kerajaan Panjalu-Jenggala dibawah Panji-panji kebesaran KERAJAAN KADIRI pada tahun 1157, dua kerajaan ini dahulu dibagi oleh Raja Airlangga yang juga merupakan leluhur Sri Mapanji Jayabhaya.

Kemenangan Sri Mapanji Jayabhaya atas Jenggala ini ditorehkan dalam sebuah prasasti bernama Prasasti Hantang (berada di daerah Ngantang-Malang), dan juga di”epos”kan dalam sebuah karya sastra berbentuk Kakawin yang berjudul “BHARATAYUDHA”. Tokoh Jayabhaya dalam Kakawin Bharata Yudha diibaratkan sebagai sosok Arjuna yang berhasil memenangkan perang Bharata Yudha pada perang saudara antara Pandawa dan Kurawa. Karya Sastra ini disebut pula sebagai Jayasastra (karya sastra tentang kemenangan) yang dikarang oleh Empu Sedah dan dilanjutkan Oleh Empu Panuluh. Beberapa karya sastra lain yang diciptakan pada masa Jayabhaya antara lain adalah Gathotkacaçraya, Hariwangça dan Serat Jangka Jayabhaya.

Pamuksan Sri Aji Jayabhaya dibangun oleh masyarakat Kabupaten Kediri sebagai bentuk penghormatan atas kebesaran leluhurnya, pembangunan pamuksan Sri Aji Jayabhaya pertama kali dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 1972 dan diresmikan pada tanggal 17 April 1976. Pembangunan ini diprakarsai oleh Yayasan Hondodento yang berasal dari Yogyakarta. Bangunan yang ada di Pamuksan terdiri dari 3 (tiga) bagian pokok, yaitu Loka Muksa (tempat Sri Aji Jayabhaya muksa), Loka Busana (Lambang tempat busana sebelum muksa) dan Loka Mahkota (Lambang tempat Mahkota diletakan sebelum muksa). Selain bangunan pamuksan pada area ini juga terdapat bangunan Sendang Tirto Kamandanu, yaitu bangunan kolam yang memiliki sumber air, tempat bersuci sebelum pelaksanaan kegiatan ritual di pamuksan. Kegiatan ritual yang dilaksanakan setiap tahun di Pamuksan Sri Aji Jayabhaya adalah Kegiatan Upacara Adat Ziarah Sri Aji Jayabhaya, kegiatan upacara adat ini dilaksanakan setiap tanggal 1 Sura (pada kalender penanggalan Jawa).

Kegiatan Upacara Adat ini terdiri dari beberapa rangkaian prosesi yang diawali dengan prosesi kirab pusaka yang diikuti oleh masyarakat dan sesepuh Desa Menang dilanjutkan dengan prosesi ziarah dan tabur bunga di bangunan Pamuksan, setelah kegiatan inti kemudian dilanjutkan dengan kegiatan berbagai hiburan rakyat. Kegiatan Ziarah Sri Aji Jayabhaya, saat ini telah menjadi salah satu bagian dari kelender event pariwisata di Kabupaten Kediri dan merupakan andalan pariwisata minat khusus (wisata budaya) Kabupaten Kediri. (dari berbagai sumber by epri2007)

Persebaran Benda Cagar Budaya di Kabupaten Kediri

BCB JPG

Wilayah Kabupaten Kediri memiliki peran yang sangat penting dalam kesejarahan Bangsa Indonesia pada masa klasik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Kerajaan Kediri yang muncul pada “Era Jawa Timur,” sedangkan nama Kediri pada mulanya memang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram Hindu yang berpusat wilayah jawa bagian tengah (sekitar Prambanan – Borobudur) sampai pada perkembangan selanjutnya melalui proses challenge and respons, hingga pusat Kerajaan berada di wilayah Kabupaten Kediri sekarang.

Bukti pentingnya peran Kediri dalam peradaban Jawa dan Indonesia terlihat dari banyaknya benda cagar budaya yang ditemukan di wilayah Kabupaten Kediri. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut beragam, dari masa Mataram Hindu, Kerajaan Kadiri, Majapahit hingga masa kolonial terserak hampir di seluruh wilayah Kabupaten Kediri. Beberapa yang bernilai lebih dan dirasa penting disimpan di Museum Nasional, Museum Mpu Tantular, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur di Trowulan seperti penemuan mahkota emas berhias batu berharga (Garudeya) di Wates beberapa puluh tahun lalu. Kewenangan atas benda cagar budaya ini di bawah lembaga teknis yang menangani yaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur di Trowulan dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kediri dan instansi terkait lainnya seperti Balai Arkeologi Yogyakarta (yang membawahi wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, dan Bali).

Temuan-temuan benda cagar budaya menunjukkan tingginya peradaban Kediri di masa lalu sebagaimana juga Kerajaan Kadiri yang terkenal atas kebudayaan yang mengiringinya seperti Kesenian Panji, Kesenian Jaranan/Kuda Lumping, karya-karya sastra, hingga Jangka Jayabaya yang banyak dikenal sebagai prediksi masa depan. (Dee)